Kamis, 17 Agustus 2017

Kenanganmu karya : Gendhuk Gandhes

Akhirnya aku menginjakkan kaki kembali di pelataran monumen gagah simbol keperkasaan perjuangan para pejuang negeri ini. Sebuah monumen yang dimulai pembangunannya saat negeri ini memperingati hari kemerdekaan yang ke enam belas. Tanggal 17 Agustus 1961.

Aku sengaja memilih hari ini, tanggal 17 untuk menatapnya. Puluhan tahun yang lalu aku menapaki lorong memasuki tugu simbol perjuangan, duduk melingkar bersama orang-orang dan teman-teman dalam satu hati, satu niat, mendengarkan gema suara Sang Proklamator. Bersama menggenggam merah putih.

Ketika Kau simpan merah putih di tugu di hadapanku, tidak ada yang mampu mengulikmu. Pimpinan negeri berganti, tapi merah putih masih tenang di dalam sana. Hanya seorang ajudan yang Kau percaya untuk mengetahuinya.

Dadaku berdebar, hatiku bergetar, tanganku mengepal kuat. Berdiri tegak menatap iringan Ki Jaga Raksa sang kereta kencana dari Kabupaten Purwakarta disiapkan untuk menyambut bendera pusaka sang merah putih. Bersama sepasukan Tentara Nasional negeri ini dari satuan angkatan darat meninggalkan tugu, menjauh dari monumen berpuncak emas. Lincah dan anggun kecipak derap sang kuda menuju komplek istana Negara.

Kau, sang Proklamator telah begitu lama menjaga semangat negeri ini. Merah putih sebagai bukti jiwa nasionalis dan patriotikmu. Kau, sang Prolamator adalah cambuk untuk kepalan tangan kami, untuk langkah tegap kami dan untuk harga mati ibu pertiwi. Pahatan tangan sang kekasih mencipta kenangan darimu. Yah. 'hak cipta' merah putih itu berada di tangan seorang wanita cantik bernama Fatmawati.

Kau, sang pemimpin langkah pejuang. Kau sang pembakar hati pemuda masa itu, menanamkan harapan selama 72 tahun dalam jiwa-jiwa muda yang semakin subur, dalam kelembutan putik sarimu menyebar menjelajah masa yang tidak sebentar itu. Mengucurkan rasa bangga dan rasa terima kasih, agar dapat memaknai setiap tetesan dari perjuangan. Merengkuh dengan segenap jiwa dan raga menggugah kami di masa sekarang.

Hari ini tanggal 17 Agustus 2017, benderamu, benderaku, merah putihku, menyatu di dada Indonesia, keluar dengan gagah penuh pesona mendampingi duplikatnya membubung, mengangkasa, meliuk mewarnai pagi yang hangat oleh hembusan tekat kami, pemudamu. Bersama-sama meneguhkan persatuan dan kesatuan di bawah tatap penuh percaya diri, inilah kemerdekaan negeriku. Dirgahayu Indonesia!


                                                           *****



* Tulisan ini dipersiapkan untuk mengikuti #NulisKilatHariMerdeka yang diadakan oleh Storial.co dengan @wishyourwatch, tapi gagal karena terlambat.

* Dan akhirnya tulisan ini akan diterbitkan melalui platform www.storial.co besok tgl. 19 Agustus 2017.

* Kata kunci : 'CERITAMERDEKA'
   dari tgl 17 agustus 2017 pukul 09.00 wib sampai 18 Agustus 2017
   pukul 09.00 wib

* Tantangan menulis fiksi/non fiksi.
   Minimal    300 kata.
   Maksimal 700 kata.

Sabtu, 05 Agustus 2017

Elegi Tawa


ELEGI TAWA
°
°
°
PROLOG.
Kita tidak pernah tahu apa yang mampu kita lakukan untuk menghadapi keadaan yang tidak kita inginkan. Kadang kita jatuh terpuruk, atau tetap berdiri tegak dengan menyeret dendam.
Adakalanya rasa cinta yang diabaikan, rasa sayang yang dimanfaatkan, dan kepercayaan yang dinodai, tertimbun bertahun-tahun, mampu melahirkan banyak hal yang tidak pernah terbayangkan.
----------------------
-

***

°
Narnia masih duduk sendirian di teras sambil menikmati hujan. Angannya melayang pada masa kemesraan Pradipto masih menghiasi hari-harinya.
"Sayang, kamu lagi menghitung tetesan air hujan?" Sapaan Pradipto lembut ketika suatu sore Narnia duduk di teras memandang hujan sambil menunggu suaminya itu pulang kerja. 
Perih terasa ketika lamunan indah itu sudah tidak pernah terwujud, menjauh di tahun pertama pernikahannya. Tahun dimana seharusnya sebuah pernikahan masih penuh warna indah dan manis.
Jangan-jangan suamimu kena pelet wanita lain, atau kena guna-guna. Ketika Nina, kakak Narnia mengetahui Pradipto sudah tidak lembut lagi, tidak seperti dulu lagi. Bahkan selalu minta perhatian berlebih, layaknya seorang pesakitan.
Setiap pagi sebelum suaminya berangkat kerja, Narnia harus membantu mengenakan kaos kakinya. Sore harinya, Narnia harus menyambut kedatangan suami dari kantor, dengan rapi dan reception. Kemudian harus juga membantu melepas sepatu serta kaos kakinya. Pradipto sudah berubah!
Awalnya Narnia tidak tahu dan tidak mengerti dengan sikap suaminya yang selalu marah-marah, apalagi jika malam-malam Narnia harus melayaninya. Juga ketika Narnia melakukan kesalahan kecil dalam menyiapkan kebutuhan sehari-hari suaminya. Pradipto selalu uring-uringan dan menyalahkan Narnia, kurang inilah...itulah.
Narnia pontang-panting memenuhi keinginan suaminya. Meskipun kadang dirasa terlalu mengada-ada. Semua sikap aneh Pradipto itu disikapi istrinya dengan sabar. Narnia berusaha menanamkan perasaan bahwa ini pernikahannya, yang harus dijaga dengan baik, dan sebagai istri dia merasa inilah saat pengabdiannya tengah diuji. Sesederhana itu pikiran Narnia. Polos dan ikhlas menjalani pernikahan bersama Pradipto.
"Hari ini manis, kemarin kurang manis. Tidak pernah kamu takar kalau membuat kopi?!" Nada tinggi Pradipto ketika suatu hari kopi tidak pas di lidah. Cangkir kopi dihempas di hadapannya, air membuncah membasahi meja. Tidak seperti dulu lagi, jika kopi tidak pas rasa manis di lidah, Pradipto akan menegur dengan lembut.
"Hhmmm... Istriku tumben kopinya kurang manis?"

**

Narnia pikir, perubahan sikap Pradipto terhadapnya karena dia sudah tidak bekerja di kantoran lagi. Sudah tidak menjadi perhatian orang dengan jabatan dan prestasi yang dia raih. Pradipto sudah tidak bangga dengan istri yang tidak bekerja. Narnia merasa suaminya sudah tidak tertarik lagi seperti dahulu saat dia menjadi wanita karir yang berprestasi. Cantik, selalu rapi dan wangi.
Padahal selama menjadi ibu rumah tangga pun Narnia masih rajin merawat diri, bahkan masih membuat janji dengan salon langganannya. Cuma tubuhnya memang agak gemukan. Timbunan lemak kompak berkumpul di perut.
Narnia berusaha instrospeksi diri. Dia berusaha hanya melihat kesalahan ada pada dirinya, dan dia membenahi penampilan. Tapi tetap saja Pradipto mencari kesalahan Narnia dalam hal lain.
"Ke salon lagi kamu?!" Suatu hari Pradipto mengetahui Narnia pulang setelah dirinya. "Untuk memikat laki-laki lain?!"
Kata-kata suaminya itu dia anggap sebagai teguran, sehingga Narnia tidak ke salon lagi. Tetapi perawatan diri dilakukannya di rumah.
Semua gejolak rasa Pradipto yang diimplementasikan dalam sikap-sikap yang selalu berubah membuat Narnia berusaha menambah perhatian dan pelayanan kepada suaminya.
Sampai suatu hari, tanpa sengaja Narnia mendapati sms dari handphone Pradipto yang tertinggal di rumah. Pagi sayang, sudah betah di rumah? Aku 
kangen bau tubuhmu. Bimbi.
Narnia merasakan seluruh jiwanya terhempas di ruang gelap dan keras. Seluruh sendinya melemah. Semangatnya luluh-lantak. Beberapa hari Narnia tidak dapat berpikir. Selama ini Narnia merasa melakukan perbaikan diri demi Pradipto, tanpa pikiran aneh-aneh.
Lalu, siapa Bimbi? Kenapa begitu menjijikkan di pesan itu? Berkecamuk pertanyaan memenuhi benaknya.
Sampai suatu hari Diana, sahabatnya, datang ke rumah, meminta saran tentang jabatan Narnia yang sekarang dipegangnya. Discuss masalah pekerjaan dan perbincangan banyak hal. Kedatangan sahabatnya, membuat Narnia bangkit. Narnia harus menghadapi masalah yang dialami oleh suaminya.
Langkah awal yang dia lakukan adalah, konfirmasi tentang short message dari Bimbi. Namun Pradipto membela diri dengan geram, marah. Naluri Narnia sebagai seorang istri menangkap kejanggalan. Mendapat kecurigaan dari istrinya Pradipto menjadi semakin marah.
Sepertinya sengaja Pradipto marah duluan sebelum istrinya bertanya lebih jauh. Sengaja marah agar Narnia tidak mengejar jawaban. Itulah Pradipto, yang termasuk kategori laki-laki pemarah jika hampir ketahuan kebusukannya. Ataukah semua laki-laki bermental tempe saja yang bersikap seperti itu?
Peri bahasa sepandai-pandai tupai melompat, suatu saat akan jatuh juga. Sepertinya berlaku pada suami Narnia. Pradipto ketahuan selingkuh. Seorang mahasiswi bernama Bimbi, yang telah membuat Pradipto berubah perangai. Ternyata Bimbi mahasiswi yang mempunyai side job sebagai perempuan panggilan.
Bimbi memang benar-benar merawat tubuhnya. Tubuh semampai, kulit putih bersih, rambut tergerai sepinggang, payudara yang montok, dengan balutan busana yang selalu menonjolkan bagian tubuhnya yang sexy, sengaja memanjakan hasrat laki-laki. Termasuk suaminya. Ditambah body language Bimbi yang menggoda, membuat Pradipto tersungkur di kaki Bimbi.
Sekali Narnia menemui Bimbi di kampusnya. Dia ingin bertatapan dan berbincang dengan seorang Bimbi. Namun Bimbi bukanlah perempuan yang mengerti arti janji suci sebuah pernikahan. Sebagai sesama wanita, sebenarnya Narnia menaruh iba terhadap Bimbi. Namun dia juga harus mempertahankan pernikahannya.

**

Usaha Narnia untuk mempertahankan rumahtangganya selama ini telah membuatnya terluka. Terseok, tertatih langkahnya. Seorang diri dia membenahi pernikahan .
Segala yang dia lakukan untuk menuntun Pradipto kembali ke dalam janji sucinya telah membuat hatinya tersayat, tercabik dan berdarah, oleh sikap dan mulut kotor suaminya yang semakin tidak terkendali.
Hempasan badai apapun dapat dihadapi oleh seorang istri yang mendapat dukungan dan pelukan cinta kasih dari suaminya. Tetapi Narnia...?
Entah ada setan darimana, yang membuat Narnia selalu sujud dan berdoa, setelah menyelesaikan malamnya bersama Pradipto.
"Ya Allah .. Tolong jangan KAU buat aku hamil."
Doa yang selalu Narnia ucapkan, setiap menyelesaikan malam-malam bersama Pradipto, suaminya. Malam seperti itu adalah malam yang sangat menyiksa, dimana dia harus menahan kuat-kuat rasa jijiknya.
"Perempuan pemalas," ucapan tidak pantas meluncur dari bibir Pradipto, jika kopi paginya terlambat.
"Kamu perempuan murahan," kata-kata kotor itu ringan terucap oleh Pradipto, ketika melihat keramahan istrinya terhadap laki-laki. Tetangga, saudara, maupun teman Pradipto.
Pernah Narnia diseret keliling komplek pelacuran, ketika menolak hasrat suaminya. Apapun yang diinginkan Pradipto harus didapat.
"Sekarang kamu sudah gendut, perut menggelambir, jelek".

Sudah terlalu lelah Narnia dihantam kata-kata Pradipto yang selalu merendahkannya. Empat tahun jiwanya terjajah, terbelenggu oleh berbagai statement murahan dari mulut Pradipto. Harga dirinya telah compang-camping tercabik kedangkalan nafsu seorang Pradipto.

Sepertinya Pradipto masih mencintai Narnia. Tetapi Pradipto merasa belum bisa meninggalkan Bimbi. Sayangnya Pradipto tidak menyadari jika perilaku Bimbi hanya sedang memanfaatkan dirinya. Bimbi hanya menghubungi Pradipto jika dia membutuhkan, selebihnya ya Bimbi akan menolak diajak ketemuan. Kalau sudah seperti itu maka kemarahan laki-laki yang diabaikan pacar selingkuhannya, akan dilampiaskan pada istri. Pradipto memang laki-laki egois.

Dua tahun awal pernikahannya, penuh dengan adu mulut. Emosinya masih gampang terpancing oleh kosa kata lecek yang dilempar Pradipto untuk sedikit kekeliruan yang Narnia lakukan tanpa sengaja.
Tidak di dua tahun keduanya ini. Narnia lebih banyak membalas dengan sikap, daripada balik melempar kata-kata kumal ke muka Pradipto.
Hampir satu bulan Narnia tidak melayani hasrat suaminya. Dia pikir Pradipto sudah tidak membutuhkannya lagi. Namun hari ini, Pradipto marah, merasa diabaikan. Bukan hanya kata-kata kumal, lecek, kotor dan bau yang diterima Narnia. Siksaan fisik mampir di pipinya, di punggung, bahkan pernah mampir di kepala. Pengabdiannya sebagai istri selama ini tidak pernah dihargai.

**

Hari ini telah tumbuh sebuah rasa yang terpupuk dari rasa sakit yang selama ini Narnia pendam. Pagi setelah Pradipto berangkat kerja, Narnia pegi ke pasar induk. Narnia menyiapkan madu dan telur ayam kampung di tempat yang dapat dilihat oleh suaminya. Pulang kantor Pradipto tersenyum melihat ritual yang sudah hampir tiga tahun tidak Narnia lakukan untuknya.
Belum terlalu larut, Narnia sudah memakai gaun malam yang begitu sexy, memancing gairah Pradipto yang hampir satu bulan dia abaikan.
Malam yang seru. Narnia berusaha melepaskan hasrat untuk Pradipto. Mereka saling melampiaskan satu bulan yang terlewat. Peluh membasahi keduanya. Hasrat Pradipto terpuaskan melebihi keinginannya. Narnia telah kembali! Pikir suaminya.
Namun tidak bagi Narnia. Sekalipun, kali ini Narnia mampu membuat kata-kata yang indah dan benar-benar tulus terlontar dari mulut Pradipto, tetap saja terasa memuakkan.
Sekali lagi. Yah... Narnia akan memuaskan Pradipto, sekali lagi.
Kali kedua hasrat terlampiaskan, melemahkan seluruh sosok Pradipto, dan membuat aliran darah Narnia menjadi semakin dingin.
Tetiba teriakan kepuasan Narnia berbaur dengan teriakan kesakitan Pradipto yang melotot dan mengejang.
Perut Pradipto robek!
Darah membasahi tangan Narnia yang sedang memainkan belati di perut suaminya. Belati digeser ke atas dan ke bawah sambil menekannya kuat-kuat di tengah perut suaminya. Suara tawa Narnia membahana, memecah malam, dengan air mata mengalir di kedua pipinya.
°
°
°
-

°
°
-----
Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti writing project di Storial Giveaways yang diselenggarakan Nulisbuku.com dan Storial.co.
#StorialGiveaways
#Cerita ini telah dikirim untuk writing project StorialGiveaways, ditulis ulang setelah mengalami editing, dan dipersembahan untuk para pecinta StorialCo.

















Jumat, 28 April 2017

Siapkah Aku Menemuimu Bulan Depan?

Siapkah Aku Menemuimu Bulan depan?
Oleh : Gendhuk Gandhes

°

Tak terasa sudah satu warsa kau pergi,
Tak terasa satu bulan lagi kau akan kembali,
Kembali tidak hanya untukku,
Kembali untuk semua yang mengharapkan ampunan-NYA.

Tahun ini kau kembali datang,
Seperti biasa membawa semua yang indah dan teduh,
Aku masih menunggumu meski dengan iman tercabik,
Menunggu yang sebenar-benarnya,
Aku ingin selesai sampai akhirnya,

Jika semua berakhir,
Mampukah aku berbangga,
Mampukah aku meyakini ampunan-NYA,
Sedang gejolak alam mulai menjawab satu-satu kegelisahan ini,

Nyaliku bergetar ketika kau diambang pintu,
Mampukah mataku menembus niat ikhlasmu,
Masihkah hati mampu berpasrah dalam sujudku,

Kedua lututku tersapu semilir tatapanmu,
Meluluhkan sendi-sendi diri,
Badan ini menjadi tersungkur di setapak kedatanganmu,

Ketika kau masih tegak belum bergerak melangkahi pintu itu,
Aku benar-benar tidak mampu menggenggammu,
Maafkan aku jika tidak mampu berdiri,
Maafkan aku menjadi takut,

Mata terpejam saat ku tahu kedua lenganmu menyentuh lenganku,
Perlahan kau bangkitkan aku,
Perlahan pula aku berdiri,

Pintu di depan terbuka tanpa berderit,
Tenang ...
Menyuarkan aroma pekat membelai gumpalan kecil sisi kanan perut,
Semilir penyambutan yang menjanjikan,

Kakiku melangkah melewati sejengkal pintumu,
Tiba-tiba aku bermandikan hawa sejuk,
Pesonamu tidak pernah berkurang,
Tumbuh imajinasi memelukmu mesra,

Selamat datang bulan yang agung,
Silakan kuliti aku dalam rengkuhmu,

Allahu Akbar

°
°
°
°
°


#NulisRandom2017
#NulisBuku

#Haripertama

Sabtu, 25 Maret 2017

Masih Tentang W

Mobil berhenti di depan kosku. Masih dalam diam kami bersitatap. Sejenak retina mata kami saling menjelajah pikiran masing-masing akan kemungkinan-kemungkinan sikap yang tiba-tiba akan dilakukan. Tidak kulihat W akan bereaksi. Sepertinya kata-kata tertelan rasa enggan memulai satu sama lain. Jeda kuakhiri dengan menepuk benda bundar pengendali mobil dan pintu kubuka.

"Hati-hati." Kutinggalkan kata sebelum seluruh badan benar-benar pindah di luar mobil.

W mengangguk. Bergeser duduk ke kursi menggantikan posisiku. Pintu tertutup kembali, tapi jendela dia biarkan terbuka. Aku mundur satu langkah memberi ruang untuk mobil melaju. Mobil bergeming. Begitu pun wanita di dalamnya. Kedua tangan kumasukkan saku celana menunggu mobil bergerak. Tetiba W menoleh memandangku yang tidak kupahami maknanya.

"Dio ...." W menyebut namaku kemudian terdiam kembali tanpa menjauhkan tatapannya.

Aku mendekat, membungkuk, meletakkan kedua tangan di tempat kaca tenggelam. Bibir ku tangkup menyeret kedua pipi ke belakang. Entah membentuk senyum atau hanya sekedar ekspresi menutup kekakuan. Tapi yang jelas membuat W mengangguk meskipun tidak ada senyum.

"Sudah ...." Tangan dan tubuhku menjauh dari jendela. Saku celana kembali menjadi tempat pelipur sepi sikap kami. Mobil distarter, tangan kanan kutarik keluar saku, melambai saat W meninggalkan dua kali klakson. "Hati-hati," seruku.
Jempol kanan W menerobos jendela terangkat tanpa menengok lagi. Sosoknya membawa mobil menjauh. Senja sudah menua. Mengingatkan untuk segera menata hari kemudian. Perjalanan petualang berakhir di pantai Klanyar. Akankah?

Aku belum bisa menebak apa yang akan dilakukan W kali ini. Baru sekarang aku berada di lokasi, menyaksikan dengan mata kepala dimana wanita angin itu mendapatkan hal yang tidak biasa. Biasanya semua keinginannya  selalu didapat. Tapi yang jelas dia wanita yang tidak biasa. Jadi dia tidak akan melakukan hal-hal yang biasa dilakukan wanita jika mengalami apa yang baru saja dialaminya.

Hari ini laki-laki yang mengatakan bahwa W telah memberikan apa yang tidak dapat istrinya berikan itu tidak datang ke pantai Klanyar. Tempat yang disepakati untuk bertemu dengan sang kekasih. Narendra telah mengecewakannya. Kecewa? Aku yakin kata itu tidak ada di kamus W. Dia pasti sedang berpikir. Yah, dia memang harus berpikir tentang sikap Narendra.

***

Asap hangat menyuar dari cangkir di depanku. Aroma kopi pekat mulai menjelajah rongga hidung. Kenikmatan cairan hitam menelusuri leher terbayang menghangatkan seluruh tubuh. Sekali sruput sementara cukup melemaskan keletihan sejak semalam. Langkah perlahan menuju jendela yang masih tertutup. Perlahan tangan kananku menggapai selot  membuka jendela mempersilakan semilir pagi berebut menyegarkan  kamar. Sambil menikmati kopi yang menunggu disesap untuk hari cerah. Seluruh tubuh menghadap semburat mentari yang belum sepenuhnya muncul. Lengkung langit menghentikan tatapanku. Kini aku sang pengendali keinginan. Tapi tetap kehampaan terasa di rongga dada sejak W pergi tadi malam.











_______________________
* Tulisan ini pernah diikutkan dalam kompetisi menulis Kolaborasi bersama Bernard Batubara @benzbara dan sudah diterbitkan di www. storial.co dengan judul yang berbeda.

Tepatnya di www.storial.co/book/menata-asa dalam buku : Masih W dan Dio karya Gendhuk Gandhes.

Setelah mengalami beberapa suntingan di sana sini, akhirnya saya terbitkan lagi di blog ini.

Minggu, 12 Februari 2017

Mantan

"Maksud, Mas?!" Kedua alis wanita hitam manis bertubuh subur itu hampir bertemu di atas hidungnya. Aku yakin ekspresi seperti itu pasti diiringi degub di dadanya.

"Kita balikan," jawaban laki-laki yang di kepalanya sudah dihiasi dua warna rambut.

"Maksud Mas?!" Mata Iyung mencari kebenaran di tatap laki-laki di depannya.

"Aku ingin kita berkumpul lagi," kata mantan suami Yuyun.

"Jangan ngawur Kamu, Mas." Wanita subur itu aku yakin sedang menutupi rasa bahagia yang tiba-tiba muncul. Bahagia karena sang mantan ternyata masih mengharapkan, masih mencintainya. Itu terlihat dari cuping hidungnya yang sedikit mengembang.

"Kenapa, Yung?" Entah merayu atau rasa kangen masa lalu, laki-laki itu memanggil nama kesayangan pada wanita yang telah menjadi ibu dari anak-anaknya dan pernah mendampinginya selama 16 tahun.

Desir indah sudah pasti meremas hati Yuyun. Perasaan yang tidak bisa dipungkiri oleh wanita manapun yang masih mendapat perhatian dari mantan suami, bapak dari anak-anaknya. Wanita bertubuh subur mantan istri laki-laki itu tertunduk menutupi perubahan rona di wajahnya. Mungkin dia sedang bimbang. Bimbang meresapi sejuta rasa yang tiba-tiba didapat dari laki-laki yang saat pertemuan terakhir enam tahun lalu masih melontarkan kata-kata pedas. Entah rasa kangen atau hanya sekedar penghibur diri? Aku menangkap gerakan mata Yuyun mengunggah gemuruhnya benak, rindu dendam berpendar di sana. Sebuah gerakan kompak dari barisan bulu mata di kelopaknya memberi tanda untuk tidak terlena mulut manis sang mantan.

Wanita itu sudah membangun mahligai baru yang disaksikan anak-anaknya. Mereka berseragam mendampingi sang Bunda merengkuh langkah untuk memulai hidup dengan laki-laki lain bernama Amzy. Baru juga kah yang dirasakan anak-anaknya? Senyum bahagia yang terbalut busaha hijab pengantin hanya diiringi tatap diam sang anak sulung, waktu itu.

"Kamu sudah punya keluarga, Mas. Aku sudah ada Mas Amzy. Kamu menyodorkan hal yang tidak mungkin." Iyung menatap mantan suami.

"Bukankah Kamu sudah pisah ranjang dengan suamimu?" tanya laki-laki bertubuh ceking yang kerutan di dahinya semakin memperjelas banyaknya pergantian tahun yang telah dilaluinya.

Iyung kaget mendengar laki-laki yang pernah lima belas tahun menjadi suaminya mengetahui pertengkaran di dalam rumah tangga barunya.

"Mas tahu dari mana? Anak-anak?" Saling bersitatap menimbulkan aura lain di wajah mantan suami Yuyun.

Laki-laki yang juga beralis tebal itu mengakhiri jeda dengan senyum dan menggeleng. 

"Aku baru ketemu anak-anak sekarang. Tapi ... sudahlah. Yang penting sekarang kita sepakat memulainya lagi." Dua retina mantan suami Yuyun menawarkan kehangatan.

"Entahlah Mas." Iyung berdiri menjauhi mantan suami. Aku yakin wanita itu takut akan sihir dari dua retina dan senyum yang sudah terlalu lama menghilang dari pertautan mereka di masa lalu. Meskipun saat ini sudah ada pernikahan kedua tapi mereka berdua pernah hidup bersama dalam waktu yang tidak sebentar. Mungkin rasa itu ada yang tersisa.

"Ada apa Iyung?" tanya laki-laki dari masa lalunya memutus gejolak batin wanita tambun itu.

"Saat ini aku masih berstatus istri mas Amzy," sahut Yuyun.

"Lalu ...?" Kejar laki-laki yang kini berdiri di sampingnya.

"Setelah tiga bulan kembali ke rumah Ibu, Mas menyusul aku dan anak-anak ke sini, sudah aku tawarkan untuk kita membuang ego. Kembali berkumpul demi anak-anak." Wanita hitam manis yang badannya semakin subur itu berdiri mendekat pada bapak anak-anaknya.

"Namun, Mas menolak tegas, waktu itu." Aku berpaling pada sosok laki-laki ceking. Memperhatikan reaksinya. Dia membisu menatap lemah ada wanita di depannya. Aku lihat Iyung bergeser posisi dua langkah ke kanan, membelakangi mantan suaminya. Angin menampar genangan masa lalu di antara keduanya. Kecipak ingatan pedih kembali menyentuh hati Yuyun. Wanita itu kembali memutar badan menatap laki-laki ceking sebelum kemudian dia melanjutkan bicara. "Dan ... Kata-kata itu tidak pernah bisa aku lupakan."

"Kata-kata apa?!" Kelelahan menunggu jawaban baik yang diharapkan dari mantan istri membuat nada itu meninggi resah.

"Tali yang sudah putus pasti akan bersimpul jika disambung." Wanita bertubuh subur itu menghujam tatapan tajam tepat di titik tengah jiwa mantan suaminya.

***

Jumat, 10 Februari 2017

Anak Sulungku

Arman kembali menolak bertemu Mas Purnomo. Nama yang pernah kupakai di belakang namaku. Aku merasa bersalah melihat keadaan ini. Secara tidak langsung aku telah menjauhkan anak-anak dengan bapaknya.

Tujuh tahun yang lalu.

"Lihat Bapakmu. Tidak pernah pulang karena perempuan itu." Aku menghujat bapaknya di depan Arman.

"Biarkan, biarkan Bapakmu tidur di teras." Kemarahanku memuncak ketika mas Purnomo pulang larut. Aku melarang Arman membuka pintu.

"Lihat! Lihat Arman! Ini uang dari Bapakmu untuk belanja. Tega sama kita." Kembali Arman tahu.

"Bapak macam apa dia?! Lebih betah bersama perempuan itu daripada dengan anak istrinya." Mas Purnomo aku maki di depan anaknya.

"Awas Arman, jangan mau kalau diajak Bapakmu jalan-jalan. Pasti ada perempuan itu." Selalu kata-kata jelek tentang Mas Purnomo yang aku sodorkan pada Arman dan dua adiknya.

Andy dan Alim masih terlalu kecil untuk memahami apa yang sedang aku rasakan. Tapi Arman ...?

"Kalau saja di negeri ini tidak ada hukum, sudah aku cincang Bapakmu bersama perempuan itu!"

Yah. Rasa cemburu, cinta, dan sakit hati tertumpah di depan Arman. Sayangnya yang keluar dari mulutku hanya kalimat hujatan untuk xmas Purnomo. Hampir setiap hari didengar Araman. Ternyata aku sama egoisnya dengan Mas Purnomo. Seperti laki-laki itu aku ternyata tidak memperhatikan apa yang dirasakan anak-anak.

Hari ini sakit di hati kurasakan kembali. Melihat Arman yang tidak mau berhubungan dengan bapaknya. Suara binatang malam sudah tidak terdengar. Hanya sesekali dengungan nyamuk melintas. Jarum jam di dinding sudah bergeser hampir ke angka tiga. Tapi mataku susah terpejam. Masih terdengar keyboard komputer di luar. Itu pasti Arman. Kebiasaan Arman sama dengan Bapaknya. Kalau sudah di depan monitor 14 inci betahnya minta ampun.

Kebencianku pada mas Purnomo telah terekam di otak, tertanam dalam di hati anak sulungku.

Aku bangun melihat anakku berdiri di ambang pintu kamar. Pria itu sudah beranjak dewasa. Di bawah hidungnya sudah tumbuh kumis tipis. Sosoknya sudah lebih tinggi dari ibunya. Suaranya sudah lebih berat. Dan sorot mata itu, sudah kokoh. Arman mendekat duduk di sampingku di tepi tempat tidur. "Ibu, aku ingin membunuh perempuan itu."






* bersambung ke http://gandhesblog.wordpress.com dengan judul Arman Nurrahman.

Minggu, 06 November 2016

#storialpicstorychallenge

#storialpicchallenge
#spsc_WorstBday   #tantangan menulis  #30dayswritingchallenge #1tahunstorial

Ulang tahun?
Aku selalu melongo jika berbincang hal yang satu itu. Tidak pernah ada Ultah yang buruk. Semua peringatan itu pasti baik. Ya minimal doa-doanya pasti yang baik-baik karena yang berdoa cantik-cantik dan ganteng-ganteng. Itu kata Bapakku.

Hari ini aku siram-siram halaman rumah yang tidak seberapa. Bunga Kamboja pink ku sudah mekar. Warnanya sangat menggoda. Ranum dan mencolok.

Seandainya ada yang ulang tahun akan aku petik bunga cantik itu.
Aku tidak pernah punya ulang tahun yang buruk, karena aku tidak pernah merasakan perayaan uang tahun.

Semua peringatan itu baik. Minimal dengan doa-doa yang baik.
Kata Bapakku ....

Selasa, 11 Oktober 2016

Patah Hati

Patah Hati
Penulis : De' Gendhuk

  
Sinopsis :

Seorang laki-laki yang baru merasakan merindu dan mencintai tiba-tiba harus terhempas ke tempat yang tidak pernah terbayangkan. Hanya karena terlambat mengungkapkan perasaannya.



▪Kiky :

Hey, si ganteng ini mulai mendekatiku lagi. Sudah dua tahun aku dibiarkan dalam kesunyian. Dia memang sengaja menyembunyikan diriku. Hanya malam-malam dia berani mendekat, mengelus, meniup wajahku dan menyentuh seluruh diriku. Kemudian Dia akan menatapku, dalam. Dan kami pun larut bersama sejuta rasa.

Aku selalu tidak mampu berbuat apa-apa ketika laki-laki ganteng itu melakukannya hampir tiap malam. Hal yang paling menyebalkan pasti di penghujung pertemuan, karena Dia selau menyebut nama Aisyah.


▪Danang :

Maafkan aku selalu menjauhkanmu dari orang-orang, Ki. Jika keberadaanmu mereka ketahui, pasti mereka akan menuduhku lemah dan cengeng. Tapi aku benar-benar membutuhkanmu, Ki. Hanya kamu teman berbincang. Kamu-lah yang selalu menemani resahku.


• Philip :

Gara-gara Kiky, aku jadi ikut repot dengan perasaan hati Danang. Menemani laki-laki yang sedang galau dengan perasaannya. Untuk ukuran laki-laki, menurutku Danang memang cengeng. Lemah dan menye-menye. Aku yang selama ini menjadi saksi apa yang terjadi antara laki-laki itu dengan Kiky.


                                                       °°°


Kiky :

Hmmm ... Malam terasa semakin sepi. Suara binatang malam di luar sepertinya ikut terlelap dalam buai gelapnya.
Sudah pukul sepuluh Danang belum pulang. Biasanya kami sudah berbincang manis dan saling menatap lekat.

Pagi jam sembilan tadi Danang sudah meninggalkan rumah. Mungkin karena Bunda keluar kota, laki-laki ganteng itu sarapan di luar, langsung kuliah sampai sore. Juga makan malam di luar pastinya. 

Hey! Bukankah hari ini tanggal dua puluh? Kata Danang kemarin, Aisyah ngajak ketemuan tanggal dua puluh.

Mungkin malam ini Danang sudah berani menegaskan hubungan mereka selama ini. Kemudian Aisyah suka cita menerima cinta Danang, dan merayakan dengan dinner bersama di restoran favorite  mereka.

Yah ... pasti seperti itu. Sehingga hari-hari selanjutnya Danang sudah tidak membutuhkan aku lagi.

Sebenarnya aku bahagia jika laki-laki yang aku sayangi bahagia.  Meskipun itu berarti hari-hari akan terasa panjang dan sepi.

Waktu itu aku sempat jengkel pada Danang. Dia berani cerita tentang perasaannya hanya di hadapanku. Di depan gadis yang dicintainya, tidak berani sepatah pun ungkapan rasa cintanya terucap. Lidahnya kelu, katanya.

"Kamu laki-laki, harus berani katakan cinta pada Aisyah!" Pernah aku membentaknya.

"Tapi, kalau dia nolak?"

"Ya itu namanya resiko, Danaaaaang." Aku tidak dapat menahan rasa jengkel.

"Eh tapi, katamu Aisyah penuh perhatian, penuh kasih sayang .... Nah, Itu berarti dia juga tertarik padamu, Dan."

"Aisyah sangat memperhatikan detail kegiatanku dan selalu mengingatkan agar istirahat yang baik dan tidak melewatkan makan." Danang mengenang kebaikan Aisyah.

"Tapi aku juga perhatian balik ke Aisyah kok, harusnya dia juga tahu dong, aku juga care sama dia." Danang masih berusaha meyakinkan dirinya sendiri.

"Danang, wanita membutuhkan kejelasan sikap dari laki-laki, bukan samar seperti yang sekarang kamu lakukan."

"Tapi ...." Danang masih bimbang.

"Ya sudah, jangan sampai kamu menyesal nanti," kataku ketus.

Perdebatan kita malam itu sangat membekas. Aku benci kamu Danang. Kata-kataku tidak Kamu dengar. Padahal hampir tiap malam kita berdua, menumpahkan rasa, meskipun aku lebih menjadi pendengar. Pendengar setiamu.

Tidak hanya perasaan untuk Aisyah yang kau sembunyikan, dari Bunda. Keberadaanku juga. Malu jika Bunda tahu sisi mellow-mu

Sempat aku berpikir bahwa kamu bukan laki-laki seutuhnya. Jangan-jangan kamu banci, Dan. Saat itu kamu pun marah pada dirimu sendiri. Kau katakan dirimu lemah, pengecut, penakut, dan sebagainya dan sebagainya. Lelah aku mengingat waktu itu.

Masing belum ada tanda-tanda kedatangan Danang. Ku intip celah sempit dari peraduan, masih gelap. Berarti Philip masih terlelap. Aku akan tunggu sampai Danang datang.


                                                            °°°


Danang :

Sudah tanggal dua puluh, aku segera SMS Aisyah.

Ais, jadi berangkat hari ini? Miss U?

Empat puluh menit berlalu. Belum ada balasan. Kenapa ya? Perasaan tiga hari yang lalu Ais masih membalas pesan-pesan dengan baik. Meskipun sudah setahun sejak Ais memberi kejutan di ulang tahunku kami berbincang tapi saat aku telepon Dia baik-baik saja. Memang terdengar lebih pendiam.

Aku tadi bergegas ke kampus karena jam sepuluh pendalaman Ilmu Hukum, takut telat. Lagian nggak ada Bunda di rumah jadi aku sarapan di kantin kampus. Jam satu langsung mata kuliah Kriminologi, materi diskusi. Aku tidak pernah melewatkan forum diskusi mata kuliah kriminologi.

Sudah puluhan kali handphone kutengok. Tidak ada satu pun pesan balasan dari Aisyah.

Mata kuliah Kriminologi, favorite-ku, sudah dimulai tapi yang melekat di otakku hanya senyum Aisyah. Kedatangan Aisyah yang akan membuat indah hari-hari ke depan. Aku gelisah, bingung dan... Hhhhhh!
Jika Aisyah berangkat pukul delapan pagi, harusnya sudah sampai. Tapi ....


Ah! Berbagai rasa berbaur sampai tidak dapat disinyalir rasa apalagi yang mampir. Aku telepon. Lagu Jogjakarta - Katon Bagaskara menemani aku menunggu pemilik telepon menerimanya. Tidak ada reaksi. Aku coba lagi. Masih sama.

Pukul dua siang, belum ada kabar dari Aisyah. Tiga puluh menit lagi mata kuliah kriminologi selesai.

Akhirnya kuliah hari ini selesai. Dosen dan beberapa mahasiswa sudah meninggalkan ruang kuliah. Aku putuskan untuk keluar mencari udara segar agar rindu ini tidak mencekik leher. Rasa lapar pun menguap entah kemana. Lagian biasanya Aisyah pasti menelpon jika sudah sampai atau jika batal datang. Tapi ... Bagaimana jika terjadi sesuatu di jalan? Ah! Rasa khawatir menggugah mual di perut.

Kaki melangkah menyusuri koridor menuju lapangan parkir di dekat taman universitas, telinga kiri kusumpal benda berkabel bernama earfone. Suara Brake mengiringi resah langkah dalam penantian.

Hampir di undakan tangga terakhir. Tiba-tiba mataku tertarik pada sosok berhijab warna biru muda dengan kerudung garis-garis warna-warni. Perpaduan warna yang indah.

Aisyah! Aku merasakan bunga yang ada di halaman parkir belakang ini bermekaran, dadaku berirama jazzy dengan soundspeaker doulbi stereo.

Aisyah ... Bibirku menyebut namanya penuh rindu. Ia baru turun dari tak ... Ah, bukan taksi. Itu mobil pribadi, dan laki-laki itu? Aisyah mencium tangan laki-laki itu, dan kecupan di kening Aisyah? Seperti ada sebuah tamparan mendarat di wajahku, panas dan pasti memerah. Hatiku juga memerah.

Mengalun lagu loving me for me milik Christina Aquilera dari handphone-ku. Foto Aisyah sedang menyuapkan es krim ke mulutku. Kenangan tahun kedua setelah kami kuliah di kota yang berbeda. Itu pertemuan kesekian, sampai tidak terhitung.

Rasa bahagia sebesar rasa kecewa menghantam dada. Aku tidak ingin menerima panggilan Aisyah. Tapi--aku ingin tahu apa yang sudah terjadi dengan Aisyah. Siapa laki-laki itu.

"Wallaikumsalam," aku menjawab salam Aisyah di ujung telepon.

"Aku di tangga menuju tempat parkir. Ada apa, Ais?" Rasa rindu dan sejuta kata indah yang sudah kutata, kabur entah kemana, tapi aku masih berusaha tenang.

"Baik. Aku segera ke sana."

Sampai di taman kampus aku lihat Aisyah sudah menunggu. Duduk di bangku di bawah pohon akasia. Tempat dimana kami pernah berencana kerja di satu perusahaan yang sama, saat Aisyah memberi kejutan ulang tahunku satu tahun yang lalu.

"Ais ...," aku menyapa lebih dulu.

"Maaf, aku terlambat, Dan."

"Nggak pa-pa," aku tersenyum hambar, tapi irama di dadaku masih mengalunkan rindu. Aku duduk di bangku taman berhadapan dengan Ais.

"Dan, aku mungkin sudah tidak bisa menemuimu lagi." Aisyah menatapku tegang. Kata-katanya terseret helaan napas beratnya.

Tiba-tiba aku merasa panik mendengar kata-kata Ais barusan.

"Kenapa, Ais? Kamu sudah tidak merasakan kangen kebersamaan kita?"
"Kamu sudah tidak mau aku sayang?"

Aku mengejar penjelasan. Aisyah menggeleng masih menatapku. Ada getar aneh karena tatapannya. Tatapan itu tidak pernah aku temui dalam pertemuan kami selama ini.

"Ais... Kamu sudah tidak sayang aku lagi?" nadaku melemah.

"Maafkan aku, Dan." Aisyah menundukkan kepala.

"Ais, tidak kah kamu tahu...?"

Tiba-tiba kata-kataku tertelan kejadian tadi ditempat parkir dimana Aisyah mencium tangan seorang laki-laki. Aku terpaku menatap mata wanita yang kucintai ini mulai berkaca-kaca. 
Aisyah kembali menatapku, kali ini tajam menusuk dada.

"Tahu apa, Dan?" pertanyaan Aisyah mengagetkan aku.

Ayo Danang, kamu harus katakan, ayo. Hari ini kamu harus tahu apa yang terjadi diantara kalian.

"Aku mencintaimu, Ais."

Dengan sisa kekuatan yang ada, akhirnya kata-kata itu meluncur. Meski ada sedikit rasa lega, namun aku sadar kata-kata itu keluar di tempat dan di waktu yang salah.

Aisyah hanya terdiam. Raut mendung mengundang sebutir air  yang sedari tadi ditahan agar tidak mengalir di pipi. Itulah jawabannya. Aku mendekat mengusap air mata gadis pujaanku.

"Kenapa, Ais?"

Aku angkat dagu Aisyah, dan kami saling memandang. Tatapan gadisku meredup.

"Dan, aku ingin memberikan ini." Aisyah menyodorkan kertas segi empat warna pink dengan pita keemasan membalut ujungnya. Undangan.

"Kau...," suaraku bergetar membaca undangan pernikahan itu.

Aisyah mengangguk sambil mengusap sisa air matanya.



Philip :

Aaah... Akhirnya Danang membangunkan aku. Remang-remang suasana kamar. Hei... Kenapa wajahnya kusut? Tas punggung dia lempar seenaknya, tidak peduli jatuh di sebelah mana. Tubuhnya dihempas ke tempat tidur tanpa melepas sepatu. Kedua tangan dilipat menjadi bantal kepalanya. Matanya menerawang mengais langit-langit kamar.

Kenapa listrik tidak dinyalakannya? Aku tidak mampu menerangi kamar seluas ini. Dalam temaram, mungkin Danang ingin menyembunyikan suasana hatinya. Ataukah malam ini dia ingin segera tidur?

Aku juga sudah terlalu lama terlelap, biasanya pukul sepuluh malam Danang sudah membangunkan. Tapi malam ini sudah pukul satu. Gila. Kemana saja dia sampai selarut ini? Oh pagi. Ini sudah jam 1 pagi. Sudah berganti hari.

Kemarin aku dengar perbincangan Kiky dengan Danang, tentang kedatangan Aisyah. Mungkinkah jalan-jalan dengan Aisyah? Tapi sampai jam satu? Rasanya tidak mungkin.
Ada apa dengan Danang?

Danang berbalik, menelungkupkan badan sambil meraih bantal untuk menutup penuh kepalanya dari belakang. Aku lirik jam di mejanya, sudah pukul tiga. Danang aku lihat sudah tidak bergerak. Syukur Dia bisa memejamkan mata.

Suara adzan subuh pukul 4.15 wib membangunkan Danang. Lumayan dia bisa memejamkan mata meski dalam tidurnya tadi terdengar igauannya. Gelisah dalam tidur.

Danang duduk di tepi tempat tidur sejenak, dan pikiran suntuknya masih tergambar jelas di wajah. Membungkuk melepas sepatu.

Melangkah gontai Danang ke kamar mandi. Bunyi gemericik air tidak terdengar lama, mungkin Danang hanya wudlu. Benar, dari kamar mandi wajah dan rambutnya terlihat basah.

Selesai shalat, aku lihat Danang mulai mendekati peraduan Kiky, mulai mengangkat Kiky dan diletakkan dihadapannya. Tanpa mengusap Kiky. Mengetahui rasa penasaranku, tiba-tiba tangan kiri Danang menggapai kepalaku, di dekatkan ke wajah Kiky.

Pelan Danang mulai menyentuh Kiky bagian dalam. Membukanya beberapa kali. Mencari batas yang selalu dia selipkan. Aku menahan napas menanti apa yang akan terjadi selanjutnya.

Yah, Danang mulai menulis. Kiky menyimak dalam diam. Ekspresi Kiky dengan putih bercorak warna dilengkapi gambar aneka tokoh kartun di lembar-lembarnya, hanya terpaku. Itulah rasa sedih Kiky yang kutangkap. Masih terlihat keakraban dalam diam mereka. Wajah Danang mengeras menumpahkan semua rasa di lembaran-lembaran Kiky.

"Hei, Kiky... Jangan diam. Tanyakan Danang dari mana."

Kiky masih terdiam serius menanggapi perasaan Danang. Aku gelisah menanti jawaban Kiky.

"Philip, cinta Danang pada Aisyah tidak terbalas."

"Jadi...," aku sudah menduga tapi tetap saja aku kaget.

"Ki, kemana dia melepaskan kekecewaan?"

"Hanya nongkrong ditempat pertama kali Dia kunjungi bersama Aisyah. Pantai."

"Oh...," nyalaku meredup menyelami kesedihan laki-laki yang sudah sekian tahun aku temani ini.

Aku lihat Danang merogoh saku celananya. Handphone-nya bergetar. Pesan singkat masuk.

"Kiky, ada SMS ya?"

"Hemmm...."

"Dari mana?" Aku tidak sabar ingin tahu.

"Apa isi pesan itu?" Aku semakin tidak sabar menunggu jawaban Kiky. Sebentar lagi pasti Danang memberitahu Kiky.

"Sebentar, dia lagi nulis, komplit dengan tanggal, jam, menit dan detiknya."

Dan, selama ini aku menyayangimu bahkan mencintaimu, tapi aku merasa aneh dengan perasaanku itu. Kau tidak pernah mengatakan isi hatimu, aku menjadi ragu dengan kedekatan kita. Apakah kau mencintaiku, atau hanya menyayangiku sebatas sahabat saja. Dan, hari ini kau baru mengatakan perasaan cintamu, tapi semua sudah terlambat. Maafkan aku.

"Benar apa yang kamu katakan waktu itu, Ki," komentarku atas SMS tadi.

"Yaaah... Mau gimana lagi?" Kiky pun enggan mengomentari lebih jauh, tapi tetap saja dia sedih.

Danang konsentrasi penuh pada lembaran-lembaran Kiky, beruntung Bunda keluar kota kemarin, jadi subuh tidak ada yang ketuk-ketuk pintu meyakinkan Danang sudah bangun.

Semua selesai pukul 5.18 wib. Danang menghela napas. Menutup tubuh Kiky, menciumnya. Sebelum mengembalikan tubuh Kiky ke peraduan, masuk ke dalam laci meja belajar. Danang sekali lagi mendekap Kiky di dadanya. Entah kapan Kiky akan dikeluarkan lagi untuk menerima celoteh selanjutnya.

Danang berpaling ke arahku, kemudian berdiri mencari saklar di dekat pintu. Listrik kamar menyala terang. Danang mendekat, menepukkan jari telunjuk dan jari tengah ke kepalaku. Pelan-pelan nyalaku meredup. Kemudian padam.



#cerita ini dibuat dalam rangka mengikuti promptgiveaway-patah hati.

Sabtu Dan Bapak.

"Kak Fandi, yang ini bagus nggak?" Adikku menunjukkan baju di depanku.
"Yang itu kan masih kegedean, Pin."
Dia lari keluar kamarku, tak lama masuk lagi membawa bajunya yang lain.
"Kalau yang ini... bagus nggak?"
"Buat apa sih pakai baju? Biasanya juga pakai kaos?" Tapi dia tidak mempedulikan pertanyaanku.
"Bagus nggak, Kak?"
"Ipiiiin... Kenapa sih dari tadi ribut soal baju?!"  Aku mulai kesal melihat adikku bolak-balik ke kamarku menenteng baju dan kaos berbeda.
"Besok kalau penampilanku jelek, gimana coba?"
"Ya biarin aja."
"Nggak bisa gitu dong, Kak?!"  Kali ini adikku yang terlihat kesal dengan sikapku.
"Kak Fandi nggak sayang sama Bapak?!"
Bapak? Kali ini aku yang kaget. Jadi Ipin mengharapkan Bapak  datang? Lalu pengertian yang selama ini kutanamkan pada adikku tidak terekam sama sekali di benak maupun di hatinya?
"Pin, Kak Fandi kan pernah bilang kalau Bapak sudah melupakan kita."
Ada rasa jengkel dan cemburu menelusup  hatiku. Hampir empat tahun tugas seorang Bapak sudah aku lakukan pada adikku. Tapi sekarang? Kerinduan seorang Ipin pada Bapak telah membuktikan bahwa ajaranku tidak mempan buat laki-laki kecil itu.
"Hey Pin! Emang kamu yakin Bapak mau datang?!" Nada tinggi kulontarkan membalas kekesalan Ipin.
"Yakinlah... " Jawaban Ipin kali ini bernada melemah. Hmmm... Dia pasti kurang yakin juga.
"Sebentar lagi salat jumuah, ayo siap-siap." Akhirnya aku mengakhiri gejolak hati Ipin dan hatiku sendiri.
"Yaaaah...Kak Fandi." Ipin menggerutu meninggalkan kamarku sambil menyeret langkah.
***
Pukul 23.30 wib, aku masih belum bisa memejamkan mata. Ponselku terbuka diposisi pesan whatsapp dari Bapak.
Assalamualaikum, Mas Fandi, gimana kabar Mas dan Adik, sehat ya? Insya allah Bapak sabtu pagi sampai di rumah Mbah, Mas Fandi dan Adik tunggu ya?
Pukul tujuh sore tadi wattapps dari Bapak masuk ke ponselku. Tapi aku tidak membalas pesan itu, meski pengirim tahu kalau pesan sudah terbaca. Sekitar satu jam kemudian ponselku berdering dengan nomor Bapak di layar. Aku hanya pandangi ponsel yang nyala di atas meja belajar. Beberapa kali masih berdering sampai akhirnya dering itu berhenti sendiri.
Selama ini setiap Bapak telepon aku tidak pernah mau menerimanya. Malas. Sudah aku abaikan pesan dan telpon Bapak. Tiba-tiba adikku satu-satunya berlari sambil teriak-teriak.
"Kak... Kak Fandi...!"
"Apa sih, Pin?!" Aku menghadap ke arah Ipin.
"Kak, ini Bapak mau bicara..."
Ipin terlihat begitu gembira. Aku segera kembali ke posisi semula, menghadap keluar jendela, memandang sedikit bintang di langit.
"Kak! Ini... Ayo Kak..." Ipin sudah berdiri di atas tempat tidurku sambil menyodorkan ponsel ke mulutku yang terpaksa kuterima. Aku tidak terlalu memperhatikan apa yang Bapak bicarakan. Semua pertanyaan aku jawab dengan kalimat pendek-pendek. Hanya ya dan tidak. Aku hanya berusaha bersikap sopan dengan orang tua, itu saja. Orang tua?
Kembali dada terasa terhimpit dan sesak.
Suara Bapak sudah tidak terdengar ketika aku katakan "...insyaallah" Segera ponsel aku lempar ke tempat tidur di samping tubuh kurus Ipin yang sedari tadi menunggu.
"Tuh ponselmu!"
"Kak Fandi jahat! Kenapa dilempar?!"
"Dasar anak kecil, pergi sana!" Adikku menjauhi kamar dengan cemberut. Kasihan Ipin jadi korban pelampiasan kekesalanku.
***
Aku tidak mau terlalu memikirkan pesan whatsapp dari Bapak. Semoga malam ini kelelapanan melenakan sehingga besok, hari sabtu aku tidak perlu bertemu Bapak.
Entah jam berapa akhirnya aku bisa terlelap, ketika aku dengar suara ibu berusaha membangunkan.
"Kak... Kak Fandi, bangun... Sudah ditunggu adikmu tuh."
"Aaah..." Aku hanya merubah posisi wajah agar tidak terkena sorot matahari dari jendela yang sudah dibuka ibu.
"Eeee... Ayo bangun..." Ibu menarik selimutku dan bertambah cerewet sambil menepuk pipiku beberapa kali.
"Iyaaaa, iya...." Dengan malas aku bangun dan duduk di tepi tempat tidur.
"Awas, jangan tidur lagi ya Kak?" Ibu keluar kamar kemudian aku merebahkan punggung ke sandaran tempat tidur. Mata kupejamkan sambil berharap hari sabtu menghilang dan tidak pernah datang. Aku malas bertemu Bapak.
"Eeeeeh... Kak Fandi! Kok tidur lagi sih... Ayo bangun." Tiba-tiba ibu sudah di sampingku menyeret lenganku. Terpaksa aku bangun. Ibu mendorong punggungku keluar kamar.
"Sana mandi dulu."
Beberapa langkah di depan kamar aku ingat harus ambil baju dalam. Terlihat ibu masih membenahi isi kamar dan tidak menyadari kehadiranku. Melamunkah ibu? Pintu lemari sudah mau kututup ketika ada suara getar di atas meja belajarku. Ponsel ibu? Aku mendekat melihat nama ayah pada dua pesan yang masuk. Naluri kurang ajarku tiba-tiba membisikkan kata : buka!
"Assalamualaikum, Nury ... tolong kali ini jangan kau halangi anak-anak ketemu aku. Biarkan Fandi melihat yang sebenarnya. Haruskah aku bawa ke pengadilan untuk masalah anak-anak kita?"
Irama jantung  terasa tak bernada. Ada apa ini?
*
Der! Der!
"Kak! Cepetan mandinya!"  Ipin sudah gedor-gedor pintu kamar mandi. "Jangan tidur lagi!"
"Apaan sih!"
"Cepet Kak, Bapak sudah datang!"
Oh, Tuhan...kenapa sabtu KAU biarkan menggantikan jumuah?
Aku benci hari sabtu.
Der! Der!  Sekali lagi pintu digedor.
"Bener kan Kak Fandi tidur di kamar mandi! "
"Ipiiin!!"
"Cepet, Kak!"  Aku dengar Ipin berlari kembali ke dalam.
Dengan langkah dan hati yang diseret, aku melangkah ke kamar. Handuk masih kusilangkan di leher dan aku hanya duduk memandang keluar jendela. Kebiasaan ini memberi kenyaman.
"Kak Fandi!!" Tiba-tiba Ipin menepuk punggungku. "Cepet Kak! Bapak sudah nunggu dari tadi." Ipin berdiri di sampingku, tinggi tubuhnya yang sedikit melampaui tinggi meja belajarku membuatnya gampang meletakkan kedua tangan dan dagunya di meja.
"Kamu ngapain disitu?!"
"Nungguin Kak Fandi biar nggak tidur lagi."
"Keluar kamu, kakak mau ganti baju."
"Nggak mau!"
"Ipin!"
"Nggak pokoknya." Adikku malah melipat kedua tangan di dadanya sok dewasa.
"Ya udah, Kakak nggak mau keluar." Aku kembali duduk di tepi tempat tidur. "Heh!" Aku melotot kearah Ipin.
"Aku keluar, tapi cepet ya, Kak?!"
"Hhhhh...."
Sudah berpakaian rapi tapi aku masih males keluar kamar. Aku melangkah ke dekat jendela. Tanaman padi di luar sana sudah tumbuh tinggi, suara batang padi bersentuhan dimainkan angin segemerisik irama hatiku.
"Kakak..." tiba-tiba ibu sudah berdiri di sampingku. "Ada apa?"
Ibu menunggu jawabanku.
"Entahlah, Bu"
"Fandi... Bagaimana pun dia itu Bapakmu, cobalah temui dia."
"Ccck..." hanya itu yang mampu keluar dari mulutku dan aku bergeming di depan jendela. Ibu tersenyum, merangkul pundakku.
"Fandi...setidaknya temui sekali saja." Ibu ikut melayangkan pandangan ke tanaman padi di luar sana. "Ibu tahu apa yang kamu rasakan, ibu pernah lebih sakit dan kecewa terhadap Bapakmu. Tapi ibu ingin kamu menjadi anak yang berbakti pada orang tua. Bapakmu juga orang tuamu, Nak."
Aku menatap mata Ibu, ada keteduhan di sana. Mata yang pernah mengeluarkan air mata oleh kelakuan Bapakku. Sudah dua tahun lebih  Ibu tidak menangis lagi dan sudah tiga tahun Bapak tidak pernah menengok aku dan adikku. Tiba-tiba Bapak menelpon anak-anaknya  dan akan menemui kami?
Aku masih menatap mata Ibu. Wanita yang pernah disakiti itu tersenyum padaku dan  mengangguk. Sekilas terlintas pesan di ponsel ibu dari Bapak. Otakku belum bisa meraba apa yang akan aku dapati saat bertemu bapak.
"Temui Bapakmu, sekali ini saja."
Senyum di mata Ibu membuatku mengangguk, mencium tangan beliau dan aku melangkah ke ruang tamu.
Berhenti sejenak aku lihat Bapak sedang berbincang dengan Ipin, mengusap kepala Ipin mesra. Sentuhan kerinduan seorang Bapak terhadap anaknya. Pemandangan itu menggetarkan hati. Ingin rasanya aku berlari ke arahnya dan memeluknya. Tapi...
Hampir aku berbalik masuk ke dalam, tapi Bapak keburu melihat kedatanganku.
"Fandi...." Mata kami saling bertatap. Bapak berdiri mendekat. Jarak satu lengan, aku menarik kaki kanan ke belakang. Wajahku mengeras dan pasti tanpa senyum.
Bapak menghentikan langkah, kemudian mengulurkan tangannya.
"Apa kabar, Fandi?"
"Ba_ik..." jawabku tanpa membalas uluran tangan Bapak.
"Bapak minta maaf baru bisa datang..."
Aku masih terpaku di tempat, tidak bereaksi dengan kata-kata laki-laki di depanku. Kami terdiam beberapa saat.
"Ayo Kak... Ayo kita jalan-jalan dengan Bapak..." tiba-tiba Ipin menarik-narik tanganku.
"Bapak mohon, Fandi mau keluar sebentar."
Ipin masih menarik-narik tanganku.
"Sekali ini saja, Fandi... Ada yang ingin Bapak bicarakan."
Kenapa tidak di sini saja? Kenapa mesti mencari tempat keluar? Biar Ibu juga dengar apa yang akan Bapak bicarakan. Tapi... Sekali lagi aku tidak mampu berkata apa pun di depan Bapakku. Aku masih saja tidak bisa melawan Bapak.
Kali ini Adikku menarik ujung baju. "Ayoooo Kak..."
Sorot mata memohon dari Bapakku juga tidak mampu membuatku bicara. Sebuah tangan mengelus punggungku dan Ibu sudah berdiri di sampingku.
"Pergilah, Anakku... Kamu akan tahu jawaban untuk semua rasamu."
Akhirnya aku mengangguk.
Bapak mengajak ke rumah makan cepat saji yang dulu selalu dia lakukan untuk kami, aku, Ipin dan Ibu. Setelah memesan dan membayar makanan, Bapak kembali ke meja kami dengan membawa tiga gelas minuman dingin. Sambil menunggu pesanan datang Bapak bicara.
"Fandi, Bapak minta maaf jika selama ini sudah membuat Fandi kecewa dan Bapak minta maaf jika baru hari ini bisa datang."
Sudah sekitar 144 kali sabtu aku selau menolak ketemu Bapak. Kemudian Bapak tidak pernah datang lagi. Bapak hanya menghubungiku melalui pesan, bbm atau watapps. Beberapa kali paket-paket dari Bapak menyapa Ipin dan aku. Baru sabtu ke 145 ini aku mau menemui Bapak.
"Rasa sayang Bapak tidak pernah berubah pada Kak Fandi dan Adik, hanya karena Bapak sakit sehingga lama Bapak hanya bisa kirim paket pada kalian."
Aku masih belum punya kata untuk menanggapi pertemuan dan pembicaraan ini. Masih jelas terbayang di benak. Bapak tidak pernah pulang ke rumah kemudian datang-datang mengusir Ibu tanpa menghargai pengabdian ibu selama menjadi istrinya yang telah merawat suami dan anak-anaknya dengan baik. 
Waktu itu Ibu langsung meninggalkan rumah tapi menginap di rumah tetangga. Untuk kembali esok harinya dan membawa aku dan Ipin  meninggalkan kota itu, kota kelahiran Bapak. Ibu membawa kami ke rumah nenek di Jakarta tanpa sepengetahuan Bapak.
Entah pertengkaran apa lagi yang terjadi. Setahuku Bapak menceraikan Ibu. Beberapa bulan Ibu selalu menangis. Kemudian Ibu memaki Bapak di depanku. Ditambah kejengkelan bude Marni, kakak Ibu, yang ditumpahkan dengan menjelekkan Bapak di depanku. Hampir tiap waktu hingga rasa kecewaku tumbuh menjadi dendam terhadap Bapak.
Sedangkan hari ini aku dapati pesan bapak ke ponsel ibu yang mengancam. Berkecamuk berbagai rasa teraduk tanpa pola. Tuut! Tuuut! Ponselku. Ada pesan masuk.
Pesan dari Pak De Pram, suami bude Marni.
Fandi, apa yang dulu Bapakmu lakukan itu sudah benar. Ibu diusir karena ada om Ais. Maafkan bude mu yang salah memberi pengertian padamu. Apa yang bude katakan tentang Bapakmu tidak benar. Dia hanya merasa marah karena adiknya, yaitu ibumu, telah disakiti oleh Bapakmu. Karena Ibumu bersama om Ais. Maafkan pak de baru bisa meluruskan sekarang. Kamu sudah dewasa, sudah saatnya tahu yang sebenarnya.
Aku tidak dapat menerjemahkan gejolak yang saat ini terjadi dalam diriku. Gemuruh di dada membuat perlahan menghancurkan benteng hati yang memisahkan kasih sayang Bapak dengan kerinduanku. Aku dengarkan setiap kata-kata Bapak.
"Fandi, tidak ada yang merebut Bapak dari Ibumu. Tidak ada yang membencimu. Tidak ada wanita lain yang berusaha memisahkan Bapak dari anaknya." Bapak menghela napas dan menatapku dalam.
"Semua buat Fandi dan adik tidak pernah berubah. Bapak hanya ingin menjelaskan itu saja. Mungkin suatu saat jika Fandi sudah menjadi laki-laki dewasa akan tahu apa yang sudah Bapak lakukan terhadap pernikahan Bapak dengan Ibumu."
Mata Bapak berkaca-kaca dan aku merasakan getaran oleh tatapan Bapak. Perlahan getar menggema menelusuri sendi diseluruh tubuh.
Aku mengangguk dan tersenyum pada laki-laki di depanku.
Tatapan Bapak sudah berubah warna, ada sesuatu yang terpancar dari kerut wajah tuanya. Dia tersenyum mesra membalas senyumku. Mataku berkaca ketika kulihat air bening menetes dari kedua mata laki-laki di depanku. Kerinduannya telah diterima oleh kerinduanku. Sabtu ke 145 ini menjadi sabtu paling melegakan buatku.
#writing project storial
#sabtubersamabapak
Ulasan penulis :
Cerita ini sedianya untuk diikutkan writing project #sabtubersamabapak namun terlambat,
Setelah mengalami beberapa suntingan dan edit sana-sini, akhirnya penulis putuskan tetap publish melalui www.storial.co/profile/gendhuk.

Kamis, 08 September 2016

CAHAYA-MU


         Cahaya-MU
Karya : Gendhuk Gandhes

Bismillahirohmanirrohim,

Dalam tiap sujud hamba,
Getar alunan ayat-ayat MU membasahi hati,
melelehkan nurani,

Ada kehampaan jika hamba terlalu jauh dari MU,
Gelisah dan kesamaran begitu dalam jika hamba tepis seruan MU hingga di ujung waktu,
Hamba menjadi sangat rapuh tanpa cahaya MU,
tapi hamba juga tidak merasa kuat untuk meraih cahaya MU,
dan ... KAU hamba genggam dalam hati.

Hamba hanya mampu membaca kitab-MU,
kemudian hamba merasa religius dan puas secara spiritual
tanpa hamba mampu menggali ilmu di dalamnya.

Dalam helai ayat-ayat MU,
ada banyak makna yang seharusnya menggugah hati,
memicu langkah,
agar cahaya berlapis itu mampu KAU resapkan pada hamba,

Hidayah yang KAU sodorkan beserta syariatnya
laksana minyak zaitun paling bagus dan bersih,
cahaya yang tegak, tidak kotor, tidak bengkok.

Hamba seharusnya mencari tahu,
Agar hamba mampu menyodorkan diri untuk KAU pilih mendapatkan cahaya MU

Ada janji dari MU tentang sebuah pancaran laksana mutiara,
Pancaran cahaya yang tanpa api pun sudah mampu menerangi ...
    menerangi di tengah-tengah alam dan qalbun,

Hamba tidak ingin qalbun aghlaf,
    bukan qalbun mankuus,
    juga bukan qalbun yang musfah,

Yang hamba ingini adalah qalbu ajrad!
Yang KAU tempatkan pada sebuah zujajah,

Segenap jiwa yang masih terseok dan lusuh ini,
Hamba sujudkan dalam waktu yang telah KAU tetapkan.

Allahu Akbar, Allahu Akbar ....

----------
Puisi ini dibuat untuk diikutkan pada Gelar Cipta Puisi Quran
Dalam rangka Milad PURMUSI ke - 17

Bio :
Gendhuk Gandhes
www.storial.Co/profile/genduk
www.gandhesblog.wordpress.com