Postingan

Keraguan

Di sini, Di tempatku, Aku hanya terdiam, Pelan kupejamkan mata, Berharap dapat menemukan jawaban, Dengan terpejam aku melihat sebongkah asa yang sedang berusaha ku tata, Agar bisa menegakkan kepala, Agar mempunyai hasrat, Agar dunia bisa kuwarnai, Kubuka mata ketika telingaku menangkap suaramu menyeru namaku, Tanganmu melambai dengan senyum khas mu, Kuangkat tangan membalasmu, Maaf, aku tidak punya senyum lagi, Kau kembali dengan aktifitasmu jauh di depanku, Sesekali sosokmu berbalik menatap ke arahku membawa senyummu, Aku pandangi dirimu, Aku pandangi tatapmu, Aku pandangi senyummu, Aku pandangi setiap kata yang kau ucapkan, Aku pandangi setiap gerak tubuhmu, Pandanganku merangsek ke dalam hatimu, Hhhh .... Adakah aku terlalu berharap? Atau aku yang tidak tahu diri? Hari ini semilir sang bayu menangkap gelisahku, Hari ini detak detik jam tangan menangkap resahku, Sayangnya,      ada yang sudah tertanam dalam,      untuk sebuah waktu yang singkat,  Dan...

Keputusan

 #ngodop.com #onedayonepost #laporanharian #harike6 Tejo masih pringas pringis di depanku. Napsu makanku tiba-tiba hilang bukan karena giginya yang ndak muat di dalam mulutnya hingga keluar, tapi sekelebat sosok laki-laki bersama seorang wanita dan bocah yang digandengnya. Mereka bertiga sangat akrab. Dan aku hampir tersedak melihat laki-laki itu merangkul pundak sang wanita memberi kursi untuk duduk. Tak lama seorang wanita bercelemek dengan kertas dan pulpen di tangan berdiri di hadapan mereka.  "Sisi! Ngapain sih melamun lagi__melamun lagi."  "Ah, Tejo! Usil!" seruku. "Ngapain Nona melamun lagi... Di tempat ramai lagi. Tuh kopi dah dingin."  Aku memonyongkan mulut ke arah Tejo yang belum sadar arah tatapanku. Semoga saja dia tidak mengikuti arah mataku. "Makananmu nggak disentuh, Si?" Tejo menyomot daging ikan bakar di piringku.  "Habisin, Jo. Dah kenyang aku."  "Kenyang? Udah jadi makhluk halus kamu, hanya makan bau makanan....

Cinta yang Diacuhkan

Gambar
Reading Challenge Odop10 Tugas Pertama. Cinta yang Diacuhkan. Buku karya Khrisna Pabichara ini menjadi pilihan untuk menyelesaikan tugas pertama dari RCO10 yang diadakan ODOP.      Dari judul buku saja sudah jelas tentang bau romance isi di dalamnya. Cinta, siapa yang tidak tahu cinta? Orang yang katanya anti cinta pun dia sebenarnya tahu apa itu cinta hingga mengantikannya. Apalagi orang seperti aku yang kata zodiak untuk scorpio memang pengagung cinta.       Pernah mengalami seperti yang terjadi di dalam buku ini? Tentu. Seperti kamu, kamu, kamu, aku pun pernah jatuh cinta. Seperti tokoh aku di buku ini dia sudah menyintai satu pria. Omong kosong jika kalian kaum pria tidak mengetahui jika sedang diperhatikan, ditaksir, atau sedang ada gadis yang mendekatimu. Tokoh kamu pun tahu jika aku mempunyai rasa indah itu. Rasa indah yang selama perjalanan penantian jawaban ternyata membuat harus menyicil rindu.      Ketika di hati aku tumbuh ci...

Jim

Sejauh ini senja kurang obyektif dalam memandang sesuatu. Dia seharusnya belajar bahwa tidak selalu kisah sedih mengantar kemunculannya. Hanya, harus ada cerita indah sebagai penyeimbang. Senja ini Jim sedang duduk di kedai kopi Arabica. Selalu saja cappucino menjadi kopi pilihannya di kala senggang. "Jim, sekali-kali coba kopi Arabica asli, heh?"   Laki-laki berambut ikal meletakkan secangkir kopi di meja, satu cangkir lagi dipegangnya lalu duduk berhadapan dengan Jim. Sesekali ujung cangkir didekatkan mulut, ditiup lalu diseruput sedikit demi sedikit. "Kamu yakin, Jim?" "Ya,'' jawab Jim. Laki-laki itu menatap tepat di bola mata orang dihadapannya. "Kamu harus bisa mengubur masa lalumu," kata lelaki berambut ikal. "Itu butuh kekuatan besar," lanjut lelaki itu. Tatapan Jim tertuju pada pemain piano di ujung ruangan. Laki-laki bertubuh tambun dengan jas biru memainkan jemari dengan lincah. Cuping telinga Jim bergerak menangkap...

Risalah Hati (1)

Pada titik tertentu aku merasa enggan melakukan apapun. Tidur. Yah, tidur yang panjang tanpa memikirkan apa-apa. Seperti hari ini, aku malas keluar rumah. Mengapa ruang ini begitu pengap? Hampir jengah aku diam di dalamnya. Sebenarnya aku heran dengan diriku saat ini. Kungkungan ini membelenggu langkah, tapi aku tidak mampu berteriak. Apalagi memberontak. Pagi yang seharusnya disambut dengan semangat, minimal ciptakan senyum, tapi   kelelahan ternyata merenggut semuanya. Malu bertemu orang-orang, enggan berbasa-basi pula. Aku hanya ingin mengurangi isi kepala. Mungkin mengharapkan sedikit beban saja agar kepala mampu tegak menatap langit. Namun, kenyataan tetaplah kenyataan. Hal yang tak mampu dibohongi. Sekarang tidak hanya kepala yang memberatkan. Hati dan nurani juga ingin saling memberontak sementara aku sudah tidak punya kata. Semestinya aku berani jujur pada diri sendiri bahwa semua ini harus disudahi. Diselesaikan dengan hati-hati. Mampukah aku merayu waktu agar ma...

Kabar dari Laut.

Angin menyusupi dedaunan cukup keras. Beberapa rantingnya terayun membantu bunyi gemerisik tercipta. Sementara debur ombak nan jauh di laut lepas kembali menghempas pantai untuk kesekian kalinya. Di batas cakrawala tak ditemukan satu perahu pun. Mungkin saat seperti inilah para nelayan beristirahat. Mereka sudah kenal baik kapan perahunya harus dijauhkan dari laut. Namun, wanita muda bergaun merah itu masih tidak mampu menjauh dari laut. Duduk di pasir hangat menatap birunya hamparan air asin seakan takut samudera itu hilang tiba-tiba. Orang-orang menyebutnya Dewi Laut. Bukan karena tubuhnya bersisik, atau di antara jari-jari tangan dan kakinya berselaput, tapi karena dia benar-benar menunggui laut. Sepeda jengki berkeranjang di belakangnya sudah ambruk karena pasir menenggelamkan standar yang terlalu lama parkir di atasnya. Wanita muda itu tidak pernah mengalihkan pandangan.  Walaupun angin begitu kencang menghantam tubuh langsingnya. "Bayu... sudah tahun kelima Mbakyu mu mas...

Kumpulan Puisi Terbit di Storial.co Karya Gendhuk Gandhes

Ramadhan 2012 Hari ini, aku masih di bulan besar - MU Hari ini... Hari kesembilan dalam ramadhan Semua sendiku lunglai, Langkahku gemetar, Seruan asma - MU... Melemahkan hatiku Beri aku waktu... Beri aku kesempatan... Sujudku hanya karena - MU... *** Kamu Saat Ini Aku masih selalu pandangi sosokmu, Dan kutemukan jemarimu meloncat-loncat di atas meja, irama hatimu Aku masih selalu pandangi jiwamu Dan kutemukan riak di matamu Aku masih selalu memandang langkahmu Dan aku temukan ada yang melambat Aku masih selalu pandangi tekadmu Kutemukan dihampir ujungnya melemah Aku masih ingin mengintip dibalik dadamu, Akankah aku temukan hatimu yang masih merona Akankah desah hidupmu menguatkan lekuk liku cintamu Haruskah aku masih memikirkan tentang janjimu? Haruskah aku menghampirimu dengan harapan itu? Haruskah aku genggam kuat lenganmu karena melemahnya tautan jemari kita? Haruskah aku berdiri berhadapan denganmu? Untuk memastikan bahwa masih ada kita di jiwamu. *** Wa...